Jangan
jadi bebek !
Tunduk kepada khayalan dan mengikatkan diri semata-mata pada
kecenderungan akal, plus ketidaktahuan terhadap sesuatu yang tidak kita
ketahui, adalah jalan menuju kesesatan, yang kadang-kadang seluruhnya, atau salah
satu diantaranya, menyatu dalam diri seseorang. Yang demikian ini, cukup sudah
sebagai jaminan bagi terjadinya kekeliruan persepsi, rusaknya akidah, dan
terjadinya dekadensi.
Itu sebabnya, maka diturunkanlah akidah Islam yang komprehensif, memenuhi
tuntutan emosi dan rasio, mengajarkan kepada manusia apa yang tidak mereka
ketahui sebelumnya, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kebodohan, lalu
menyinari jalan yang dilaluinya. Karena itu, barang siapa mengikuti apa yang
diajarkannya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, kemudian beriman
kepada segala sesuatu yang disampaikan oleh Al-Quran, berarti dia telah
memperoleh petunjuk, dilindungi dan dipenuhi segala kebutuhannya. Dan barang
siapa menyimpang darinya, berarti dia telah disesatkan setan : Barang siapa
tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidaklah dia mempunyai cahaya (petunjuk)
sedikitpun (QS. An-Nur: 40).
manusia - baik yang Mukmin maupun non Mukmin - mengetahui adanya makhluk
gaib, maka wahyu ternyata membatasi jalan kita untuk mengetahui alam gaib ini
dari pandangan kita, sekalipun kadang-kadang kita bisa merasakan kehadirannya.
Sementara itu, Sunnah Nabi pun telah menjelaskan kepada kita secara gamblang
tentang hal-hal yang berkaitan dengan alam gaib tersebut, sehingga kita tidak
tersesat dari jalan yang benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar